Berean Insights

Dan orang yang telah ditinggalkan setan-setan itu meminta supaya ia diperkenankan menyertai-Nya. Tetapi Yesus menyuruh dia pergi, kata-Nya: "Pulanglah ke rumahmu dan ceriterakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu." Orang itupun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya. (Lukas 8:38-39)

 

Dan takjublah orang tua anak itu, tetapi Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapapun juga apa yang terjadi itu. (Lukas 8:56)

 

Sungguh, suatu unsur yang mengagumkan dari dua kisah yang kontras. Di satu pihak orang yang dirasuk setan di Gergesa diberitahu untuk pulang kepada keluarganya dan menceritakan segala sesuatu yang terjadi. Pada kisah yang lain, orang tua dari gadis berusia 12 tahun diminta untuk tidak menceritakan kepada siapa pun. Mengapa ada perbedaan? Secara manusiawi, kita tahu bahwa setiap orang senang menceritakan (sesuatu yang merupakan rahasia) kepada semua orang. Tidak akan ada rahasia di sini. “Orang itu pun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya.” Dari kedua konteks jelaslah bahwa cerita itu akan diberitakan ke luar daerah itu. Jadi mengapa Yesus memberitahu kepada seseorang “jangan memberitahu” dan kepada orang lain “beritahukanlah.” Dan selain itu, berhentilah dan renungkan sejenak situasi yang mengelilingi gadis itu. Rumah mereka penuh dengan orang-orang, gadis itu mati. Yesus datang dan membawa masuk orang tuanya beserta ketiga murid-Nya ke dalam kamar di mana gadis itu berada dan memerintahkan semua orang untuk keluar. Sesuatu yang menakjubkan terjadi di dalam kamar dan tiba-tiba gadis itu hidup kembali. Gerombolan orang banyak ada di sana dan telah “menyaksikan” hal itu. Oh, sejujurnya, mereka tidak sungguh-sungguh melihat apa yang terjadi, tetapi mereka sudah cukup melihat sesuatu yang bisa disebarluaskan. Tetapi Yesus memberitahu orang tua gadis ini untuk “tidak memberitahukan” hal itu. Apakah itu sesuatu yang naif atau bagaimana? Tentu saja cerita itu akan diberitakan, apakah mereka mengetahui faktanya atau tidak.

 

Di lain pihak, kisah tentang orang yang kerasukan setan telah disaksikan oleh para penjaga babi, orang-orang sekampung yang keluar untuk memastikan kebenaran cerita dari para penjaga babi dan banyak orang yang telah melihat bahwa pria yang sebelumnya telanjang dan tinggal di pekuburan itu sekarang sudah berpakaian dan waras. Orang itu diizinkan untuk menceritakan kisahnya; orang tua gadis itu tidak. Mengapa berbeda?

 

Di bawah ini adalah suatu daftar cerita di dalam kitab-kitab Injil di mana orang-orang diperintahkan untuk “memberitahu” atau “tidak memberitahu”.

 

Matius 8:4/ Markus 1:44 – seorang pria yang sakit kusta. “Jangan memberitahu siapa pun mengenai hal ini.

Matius 9:30 – dua orang buta. “Jangan memberitahu siapa pun tentang hal ini.”

Markus 5:43 / Lukas 8:56 – gadis berusia 12 tahun – Yesus memberikan perintah keras kepada mereka untuk tidak menceritakan kepada siapa pun juga apa yang telah terjadi.

Markus 7:32, 36 Seorang tuli yang gagap  - Yesus memberitahu orang banyak untuk tidak menceritakan kepada siapa pun.

Lukas 5:12, 14 Seorang pria yang penuh kusta – Yesus memerintahkan kepadanya untuk tidak memberitahukan kepada siapa pun tentang apa yang telah terjadi.

 

 

Markus 5:19 orang yang dirasuk setan – Yesus berkata “Pulanglah ke rumahmu dan ceriterakanlah segala sesuatu."

  Lukas 8:39 “Pulanglah ke rumahmu dan ceriterakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu. Orang itupun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa   yang telah diperbuat Yesus atas dirinya.”

 

Yang juga menarik, ini adalah kali pertama saya memperhatikan ketika sedang mengerjakan bagian ini, bahwa sementara Matius menyertakan kisah-kisah tersebut (orang yang dirasuk setan dan gadis ini) di dalam Injilnya, ia tidak mengatakan apa pun tentang apakah penerima mujzat seharusnya memberitahu atau tidak memberitahu. Ia tidak menyebutkan unsur tersebut di kedua kisahnya. Aneh. Mengapa? Kita simpan untuk pembahasan “permata” mengenai Injil Matius.

 

Untuk saat ini, ambillah waktu untuk memperhatikan semua bukti dan melihat apa yang bisa Anda dapatkan dari hal tersebut. Setelah memberi waktu kepada Anda untuk melakukan hal itu, saya akan berusaha untuk menyingkapkan semuanya besok.

 

 

Saya tidak berada dalam penolakan, saya hanya sangat selektif mengenai realita yang saya terima.

 

Pikiran saya seperti pengering tinta: seraplah; buatlah menjadi ke belakang.

 

Kita tidak bisa mencegah badai di dalam kehidupan kita, tetapi kita dapat menari dalam genangan-genangan air tersebut.

 

Apa yang terjadi jika Anda dua kali ketakutan setengah mati?

 

Menyimpan dendam adalah membiarkan seseorang tinggal di dalam pikiran Anda tanpa membayar uang sewa.

 

Saya tidak sebaik yang seharusnya. Saya tidak sebaik yang dapat saya lakukan. Tetapi bersyukur kepada Tuhan karena sekarang saya lebih baik daripada dulu.

comments powered by Disqus