Berean Insights

Maaf, saya sementara menuju ke NZ dan rupanya susah dapat internet connection di tempat kami di Australia. Oleh karena itu Permata Alkitab ini terlambat beberapa hari. Hari ini saya kirim yang lambat dua hari, tambah yang untuk hari ini dan juga yang untuk besok. Nikmatilah.

Ian

Kalau orang mati tidak dihidupkan kembali, mengapa ada orang yang dibaptis untuk orang mati? Untuk apa mereka melakukan hal itu? Kalau memang orang mati sama sekali tidak akan dihidupkan lagi, untuk apa mereka melakukan hal itu? (1 Kor 15:29)
 

Ada yang menganggap bahwa ayat ini adalah ayat yang paling sulit dalam Perjanjian Baru. Banyak dari antara para cendekiawan terbaik yang mencoba untuk menjelaskannya. Jumlah tafsirannya yang berbeda-beda ada sebanyak jumlah penafsirnya.

Makna yang Paulus maksudkan tidak mudah untuk dipahami; ia mengacu ke mana ?
Berikut ini ringkasan dari penafsiran-penafsiran yang paling mungkin (yang disusun secara tidak beraturan) :

  1. Menyentuh tubuh-tubuh yang mati : Beberapa penafsir berpikir bahwa Paulus mengacu kepada pemurnian dari mereka yang telah menyentuh tubuh orang mati, yang dilakukan baik dengan abu dari bara merah bekas bakaran sapi, maupun dengan memandikan diri di dalam air, yang dikatakan oleh orang Yahudi sebagai mengisyaratkan ''kebangkitan orang mati''. Pengkhotbah 34:25 diberikan sebagai bukti tetapi anak kalimat yang digunakan di situ berbeda. Alasannya juga agak menyimpang. Jika tidak ada kebangkitan orang mati, mengapa perlu sedemikian rupa mengurus tubuh orang mati ?
  2. Dibaptiskan sebagai orang mati : Penafsir-penafsir lain berpikir bahwa ''dibaptiskan untuk orang mati'' berarti dibaptiskan sebagai orang mati, dibaptiskan ke dalam Kristus, dan dikuburkan denganNya dalam baptisan, dan bahwa dengan baptis selam orang-orang itu dianggap sebagai orang mati.
  3. Baptisan yang diwakilkan atas nama mereka yang sudah meninggal. Penafsir-penafsir lain berpikir bahwa Rasul Paulus mengacu kepada kebiasaan mewakilkan baptisan, atau dibaptis untuk orang yang sudah mati, yang mengacu kepada kebiasaan membaptis orang untuk menggantikan orang yang mati sebelum dibaptis. Demikian pentingnya baptisan, sehingga jika seseorang meninggal tanpa dibaptis, orang lain dibaptis di hadapan tubuh matinya untuk menggantikannya. Bahwa kebiasaan ini berlanjut di gereja setelah masa Paulus, telah banyak dibuktikan oleh Grotius, dan telah diterima secara umum. Tetapi keberatan-keberatan terhadap penafsiran ini jelas :Tidak ada bukti bahwa kebiasaan ini berlanjut pada masa Paulus.
Tak dapat dipercaya bahwa Paulus akan memberi dukungan kepada suatu kebiasaan yang tidak ada maknanya dan yang demikian bertentangan dengan Firman Tuhan, atau bahwa Paulus membuatnya sebagai dasar dari penjelasan yang serius.

Ini tidak sesuai dengan usaha dan tujuan dari penjelasannya. Jika kebiasaan ini digunakan sebagai acuan, pola pemikirannya akan membawa Paulus untuk mengatakan, ''Apa yang akan terjadi dengan mereka yang dibaptis untuk orang-orang itu ? Apakah kita harus percaya bahwa mereka binasa ?''

Yang jauh lebih mungkin adalah bahwa kebiasaan yang digunakan sebagai acuan dalam pendapat ini muncul dari penafsiran yang salah dari bagian Firman ini, bukan bahwa kebiasaan ini ada pada masa Paulus.

4. Dibaptis dengan api/tertindas oleh pencobaan : Penafsir-penafsir lain berpikir bahwa kata dibaptis digunakan di sini dalam makna ditindas oleh bencana, pencobaan, dan penderitaan; dan dalam makna bahwa para rasul dan yang lainnya dihadapkan pada pencobaan besar karena orang mati, yaitu dalam pengharapan akan kebangkitan, atau dengan pengharapan bahwa orang mati akan bangkit. Penafsiran ini juga sependapat dengan kecenderungan umum dan merupakan penjelasan mengenai kebangkitan. Artinya adalah bahwa mereka harus lambat dalam mengambil pendapat yang mengandung arti bahwa semua penderitaan yang mereka alami adalah sia-sia. Pandangan ini masuk akal dan sesuai dengan tuntutan pernyataan dalam ayat-ayat selanjutnya. 

Tetapi ada keberatan-keberatan terhadap pendapat ini juga.
(a) Ini bukan makna yang biasa dan wajar dari kata ''baptis''.
(b) Penggunaan kata secara metafora seharusnya tidak dipakai kecuali bila perlu.
(c) Makna yang sesungguhnya dari kata ini di sini akan sesuai dengan pola penulisan Rasul Paulus yang memaksudkannya sebagai metafora.
(d) Penafsiran ini tidak membebaskan kita dari kesulitan untuk memahami anak kalimat ''untuk orang mati'', 
(e) Secara keseluruhan lebih wajar untuk menganggap bahwa Rasul Paulus menurunkan penjelasannya dari baptisan dari semua orang yang Kristen, bukan dari baptisan kiasan dari beberapa orang yang binasa karena mati syahid – Pendapat yang lain, oleh karenanya, adalah bahwa Rasul Paulus di sini mengacu kepada baptisan seperti yang dilakukan kepada semua orang percaya.

5. Penafsir-penafsir lain berpendapat bahwa ada orang yang menunda baptisan mereka hingga mereka menjelang ajal, dan kemudian minta orang melakukannya, tetapi kebiasaan ini tidak umum pada zaman Rasul Paulus, dan merupakan kebiasaan yang tidak terpuji. Walaupun orang-orang yang dibaptis seperti ini sedang menjelang ajal mereka, lebih dekat kepada kematian daripada kehidupan dan sama saja dengan sudah mati, menganggap bahwa kata-kata ini dipaksakan untuk mengandung arti dibaptis untuk orang mati. Tanda-tanda baca yang paling tepat digunakan adalah, ''Jika orang mati sama sekali tidak bangkit, jadi mengapa mereka dibaptiskan untuk mereka'' (jadi manuskrip yang tertua menuliskan kata-kata yang terakhir ini, dan bukan kata-kata ''untuk orang mati'') ?

6. DIBAPTIS DI HADAPAN ORANG MATI, DI TEMPAT PEMAKAMAN : Penafsir-penafsir lain merasa kata-katanya harus diubah menjadi ''di hadapan orang mati'' : dan mereka menganggap ini mengacu kepada orang- orang Kristen yang ''tempat pembaptisan'' nya adalah di atas tempat pemakaman mereka, dan dengan dibaptis di sini, mereka menyaksikan iman dan pengharapan mereka akan kebangkitan orang mati. Tetapi ini lebih merupakan dibaptis di antara orang mati, dan bukannya di hadapan mereka atau untuk mereka. Dan selanjutnya tidak pasti bahwa mereka benar-benar menggunakan tempat-tempat seperti itu untuk membaptis. Perlu ditambahkan bahwa orang-orang Kristen zaman purba belum memiliki tanah pemakaman milik mereka sendiri sebelum mereka kematiannya.

7. DIBAPTIS UNTUK MENGGANTIKAN MEREKA YANG TELAH MATI : Penafsir-penafsir lain merasa Paulus memaksudkan orang-orang itu dibaptis, dan ditambahkan kepada gereja, dan dengan demikian mengisi tempat mereka yang telah mati; tetapi alasannya dari sini adalah membuktikan bahwa kebangkitan orang mati itu bukan hal yang mudah.

Ketiga ayat selanjutnya harus sesuai dengan makna yang diambil untuk menjadi makna ayat ini. Tiba saatnya bagi Anda untuk berpikir sendiri. Saya sudah cukup banyak bekerja untuk Anda.

Hidup akan menguji Anda, tetapi jangan biarkan hidup mencuri nyanyian Anda !
Selalu terlalu dini untuk panik !
Orang miskin bukan orang yang tanpa uang, orang miskin adalah orang yang tanpa  impian ! - Ian Green

comments powered by Disqus