Berean Insights

Dalam ayat 16 Paulus mendorong mereka untuk memberi salam satu sama lain dengan kasih Kristen (NTL)

Versi literal berkata – Greet one another with a holy kiss. (Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus) (LITV)

Versi Message mengatakan – Pelukan kudus kepada sesama! (MSG)

Versi Contemporary English menyatakan - Be sure to give each other a warm greeting. (pastikan untuk memberi salam satu sama lain dengan salam hangat) (CEV) 

Ada banyak perdebatan disekitar ayat ini. Pasti sangat membantu kalau kita memakai versi literal jika Anda tidak memiliki akses untuk versi dalam bahasa asli. Atau metode lain adalah memakai E-sword yaitu klik pada ayat yang Anda pertanyakan kemudian klik di tombol compare (perbandingan) pada tool bar di bagian atas layar Anda. Maka akan muncul perbandingan ayat-ayat dalam berbagai versi sesuai dengan versi yang sudah Anda load. Semua versi yang ada pada saya ada 34 hanya 8 di antara mereka yang tidak menyebutkan tentang ciuman dalam ayat ini. Seperti yang Anda lihat di atas, ada beberapa versi yang mencoba menjelaskan arti kata itu dengan penerjemahan yang inovatif, tetapi dasar penerjemahan kita harus didasarkan pada kata dalam bahasa Yunani yang dipakai yaitu  φίλημα [philēma] - a kiss, ciuman. Ciuman yang dipakai oleh orang Kristen,  biasanya mengandung arti untuk memberikan selamat atau mempertaruhkan hubungan mereka di dalam iman sebagi tanda kasih persaudaraan. Kata yang dipakai adalah kata benda yang berasal dari kata kerja φιλέω [phileō]. Kita sudah pernah membahas kata ini dalam Bgem sebelumnya.

Paulus menyimpulkan dengan memberikan rekomendasi kepada mereka untuk mengasihi dan memberikan pelukan satu sama lain. Ekspressi kasih yang timbal balik, supaya hal itu semakin menambahkan dan menguatkan kasih di antara mereka. Oleh karena itu Paulus mendorong mereka untuk memakai ciuman tetapi harus yang kudus – ciuman yang murni. Bukan yang sembrono atau penuh nafsu atau memiliki motivasi tersembunyi dibaliknya. Ciuman yang murni yang benar-benar tidak sama dengan ciuman pengkhianatan seperti yang dilakukan oleh Yudas. Kemudian dalam penutupan suratnya ini, Paulus menambahkan salam untuk mereka semua, atas nama gereja atau persekutuan atau perkumpulan di dalam Kristus. Itulah gereja-gereja dimana Paulus pernah disana waktu di Korintus dan dimana dia biasa mengunjungi mereka secara pribadi.

Tidak ada yang salah dengan cium kudus selama itu – kudus; dan sesuai dengan konteks budaya dimana kita berada. Nampak jelas bagi para pembaca surat Roma ini betapa besar kasih dan sayang yang antara Paulus dan jemaat di Roma dan kasih setiap pribadi dengan yang lainnya. Bentuk salam gereja mula-mula mungkin sesuai dengan orang-orang Ibrani pada jaman dahulu dalam memberi salam satu sama lain. Meskipun Alkitab tidak menceritakan hal itu secara detil, “cium kudus” atau “ciuman kasih” terbukti untuk mengungkapkan seluruh kasih dan kesatuan dalam jemaat Kristen. Pada zaman para rasul, orang-orang Kristen memberikan salam satu dengan yang lain melalui ciuman kudus” atau ciuman kasih”. Sungguh merupakan ekspresi persaudaraan! Paulus mengatakan kepada jemaat di Roma “untuk memberi salam satu dengan yang lain dengan cium kudus”. Bagaimanapun juga, dia tidak membangkitkan kebiasaan Kristen yang baru atau ritual keagamaan yang baru. Dalam zamannya Paulus, ciuman di dahi, bibir atau tangan sering diberikan sebagai tanda salam, kasih atau hormat. Oleh sebab itu, Paulus menunjuk pada kebiasaan pada zamannya.

Setiap tamu di rumah di tanah suci mengharapkan untuk dicium ketika mereka masuk. Ketika dijamu oleh orang Farisi, Yesus berkomentar pada perjamuan itu dengan berkata, “engkau tidak memberiku ciuman” (Luk.7:45). Perbedaan antara orang Timur dengan orang Barat dalam memberi salam satu sama lain dijelaskan oleh seorang di Palestina  “di barat laki laki berjabatan tangan ketika mereka bertemu dan memberi salam, tetapi di Palestina, sebagai ganti dari berjabat tangan, mereka menaruh tangan kanan mereka di bahu kiri temannya dan mencium pipi kanan dan dan demikian juga dengan bagian kiri, mereka menempatkan tangan kiri mereka ke bahu kanan temannya dan mencium pipi kiri temannya..”(Manners and Customs of Bible Lands, pg. 74). 

Salam, maksudnya ciuman, nampaknya adalah hal yang biasa dilakukan dalam gereja mula-mula, dan kemudian terus berlanjut sampai beberapa abad sesudahnya.  Kebiasaan ini disebutkan oleh Justin Martyr, Tertullian…Agustinus, dan beberapa penulis pada abad mula-mula…berkaitan dengan sejarahwan pada gereja mula-mula, penyalahgunaan kebiasaan ini akan membawa pada sikap menghindari melalui memisahkan kelompok menurut jenis kelamin ketika jemaat berkumpul untuk menyembah Tuhan.

Pertanyaan berkaitan dengan cium kudus:

  1. Apakah Paulus dan Petrus menujukan ciuman itu untuk semua orang Kristen, dalam semua budaya dan untuk semua umur?
  2. Jika ditujukan secara umum, bagaimana kita menentukan dimana ciuman itu (leher, pipi, vivir dll., atau tergantung dengan keinginan masing-masing)?
  3. Jika ditujukan secara umum, apakah ciuman itu dipraktekkan secara umum untuk semua jenis kelamin?
  4. Apakah ciuman kudus hanya untuk salam yang wajib tanpa dibatasi oleh bentuk tertentu dan kemudian mengatur bentuk yang sama rata?

Biarkan anak-anak mengajar kita:

“Ketika seseorang mencintai Anda, cara dia mengucapkan nama anda akan berbeda. Anda tahu bahwa nama Anda aman di mulutnya.” - Billy, age 4

“Ketika nenek saya menderita arthritis, dia tidak dapat membungkuk dan mengecat kuku-kuku jari kakinya lagi. Maka kakek saya melakukannya untuk dia setiap waktu, bahkan ketika tangannya menderita arthritis juga. Itulah cinta.” Rebecca, age 8

“Jika anda ingin mencintai lebih baik lagi, Anda harus memulainya dengan orang yang Anda benci.” - Nikka, age 6

“Anda seharusnya tidak mengatakan ‘aku cinta kamu’ kecuali jika anda benar-benar mencintainya. Jika anda benar-benar mencintainya, anda harus mengatakannya berulang kali. Orang-orang lupa.” Jessica, age 8

comments powered by Disqus